Senin, 31 Agustus 2020

Selepas Kau Pergi, novel karangan Pethit

 





  Kisah ini mencerita, Ika. Siswi SMA Cendana, yang sangat cantik, centil dan manja. Mempunyai kekasih yang sangat ganteng, namun sangat tidak pengertian terhadap Ika. Namanya, Fiyan. Cowok keren dan kaya.

  Selama menjalani kisah kasih berdua, Ika dan Fiyan beberapa kali sering bertengkar satu sama lain. Bahkan samapai mengakhiri kisah kasih mereka berdua, namun itu semua hanyalah sesaat saja. Putus, nyambung sering dialaminya. Hingga akhirnya, mereka berdua merasakan apa yang namanya harus berpisah selamanya.

  Setelah mengakhiri kisa kasih mereka berdua. Fiyan dan Ika, sama-sama belum bisa melupakan satu sama lain. Hingga akhirnya mereka berdua berusaha untuk saling membenci satu sama lain. Tetapi rencana itu gagal, dan terus gagal.

 Gimana kisah kasih Ika dan Fiyan selanjutnya, baca hanya di NovelMe. https://tulis.novelme.com/#/novel/corpusDetail/16553




Minggu, 14 April 2019

LOLOS SELEKSI.


LOLOS SELEKSI.



   Entah kenapa pagi itu, sebelum berangkat ke sekolah aku memasukan sepatu sepak bola ke dalam tasku. Sebenarnya bukan tanpa alasan aku memasukan sepatu bolaku ke dalam tas, alasana pertamaku yaitu, karena hari itu juga hari di mana ada jadwal pelajaran olahraga. Kalau untuk alasan ada pelajaran olahraga, mungkin kurang cocok. Karena pelajaran olahraga enggak selalu bermain sepak bola, bisa saja bermain voli, bulu tangkis atau senam. Terus alasan yang kedua ini, yang sebenarnya masuk akal, yaitu kemarin sebelum jam pulang sekolah, ketua kelas mengumumkan bahwa besok akan ada seleksi pemain sepak bola. Untuk mewakili tim sekolah diajang liga pelajar se-kota tingkat SMP sederajat.

   Aku yang sebenarnya sedikit ragu dengan cara bermain sepak bolaku, tidak begitu yakin akan ikut seleksi. Tapi entah kenapa pagi itu, tanpa ada persiapan sebelumnya, aku begitu yakin pagi itu untuk ikut seleksi.

   Sesampainya aku di sekolah, aku tidak memberi tahu teman-temanku. Dan saat jam pelajarana olahraga, baru aku mengeluarkan sepatu bolaku dan memberi tahu kepada teman-temanku, bahwa aku juga akan ikut seleksi juga.

   Setelah sampai di lapangan desa Sogaten, lapangan sepak bola yang deket dengan sekolahanku. Aku langsung memakai sepatu, lalu berbaris bersama teman-teman lainya untuk mengikuti arahan dari guru olahraga.

   Saat pembagian tim, aku berada di tim A. Tanpa ada kordinasi, semua memilih tempatnya masing-masing dengan sesuka hati. Karena seleksinya diikuti seluruh siswa se-SMP, maka aku banyak juga yang belum kenal dengan teman satu timku itu.
Awalnya aku bingung, mau memilih berada di posisi mana, setelah melihat-lihat akhirnya aku memilih posisi penyerang sayap kiri. Setelah semuanya siap, dan guru olahraga melihat kondisi tim A dan tim B, akhirnya pertandingan seleksipun di mulai.

   Aku sering teriak kepada teman-temanku satu tim bahwa posisiku kosong tidak dikawal oleh pemain lawan. “Woy-woy, kosong, kosong.” Teriakanku kencang dengan mengacungkan tangan untuk memberi tahu posisiku yang tanpa pengawlan dari tim lawan itu kepada teman setimku yang menggiring bola.

   Ketika aku mendapatkan bola dari operan temanku, aku mencoba menggiring bolanya ke arah gawang lawan. Ketika aku mengirm umpan ke depan gawang, ternyata tidak tepat sasaran kepada teman setimku.

   Karena tidak tepat sasaran, tim lawan mencoba membangun serangannya, aku yang tidak ingin kalah. Akhirnya aku terpaksa membantu pertahanku, ketika aku berebut bola dengan tim B, dan kebetulan yang kurebut bolanya adalah teman sekelasku.

   Ketika saling berebut bola, dan saling adu kecepatan lari. Aku sedikit kalah dengannya, tapi aku berhasil menghalanginya untuk memberikan umpan kepada temannya. Saat bola berhasil kurebut darinya, dan mencoba mengiring bola. Aku mendapat pressing ketat oleh orang yang kurebut bolanya tadi yaitu temanku sekelas.

   Saat aku menguasai bolanya, dia mencoba merebutnya dengan cara sedikit mendorong-dorongku. Saat aku ajak dia berlari, aku yang sedikit kecil darinya, dia mendorongku dan aku terjatuh. Saat aku jatuh, aku tidak berpura-pura sakit seperti pemain-pemain bintang di Eropa yang kesenggol sedikit jatuh, dan protes kepada wasit.

   Beda dengan diriku, aku langsung bangkit dan mengejar lawan yang berhasil mengambil bola dariku. Usahaku akhirnya tidak sia-sia, aku berhasil merebutnya kembali dan langsung ke passing ke temanku yang lainnya.

   Tak terasa, tiba-tiba guru olahraga meniup peluit berakhirnya pertandingan seleksi. Dan disuruhnya seluruh pemain seleksi duduk berbaris dua dihadapannya. Setelah semua berkumpul, aku tidak tahu jika yang akan lolos dan mewakili tim sepak bola SMP diumumkan hari itu juga setelah selesai pertandingan.

   Aku yang sedikit dag-dig-dug detak jantungku karena sedikit lelah, mencoba mendengarkan siapa saja yang akan lolos selanjutnya. Ketika satu persatu nama disebutkan, aku biasa saja. Ketika jumlahnya sudah lebih dari 15 orang dan tinggal satu nama lagi, aku tidak berharap lebih. Tapi entah kenapa aku seperti beruntung, ketika aku jatuh tadi dan mencoba merebut bolanya lagi dan berhasil merbutnya. Guru olahraga merasa aku mempunyai semangat lebih, dan nama terakhir yang lolos dan akan mewakili tim SMP adalah aku, yaitu Agusta Permana.

   Aku yang sedikit terkujut, mengepresikan wjah datar dan sedikit senyuman ketika teman-teman yang lainnya menatapku. Dan yang sebenarnya aku sangat bergembira dan ingin berteriak mengatakan “Hore!!!”

Senin, 11 Februari 2019

Librisida dan Pisau Bermata Dua


Librisida dan Pisau Bermata Dua

Pemberangusan BukuSetelah hampir 74 tahun merdeka, Indonesia selalu diliputi masalah. Salah satunya adalah pemberangusan buku atau librisida. Buku yang merupakan jendela dunia terpaksa harus dihilangkan. Dan menariknya, dari sekian banyak buku yang terpaksa ditarik dari peredaran, sebagian besar bersinggungan dengan ajaran komunisme atau yang kerap disebut beraliran kiri.
Librisida di Indonesia
Menanggapi peristiwa berdarah G30S/PKI[1], Ketetapan Majelis TAP MPRS No: 25/MPRS/1966 tentang Pelarangan Paham Komunis di Indonesia pun dipublikasikan. Dampaknya adalah pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) dan penghilangan atribut yang berhubungan dengan PKI, termasuk buku. Bahkan, selama pemerintahan Orde Baru (1966-1998), setiap buku yang akan diterbitkan harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan terbit oleh Mahkamah Konstitusi. Dalam pelaksanaannya, jika buku tersebut dianggap memihak ajaran komunisme (beraliran kiri), buku itu tidak bisa dipublikasikan. Sementara untuk buku-buku beraliran kiri yang sudah beredar di masyarakat, penyitaan dan pemberangusan buku dilakukan di seluruh penjuru Tanah Air. Seperti yang kembali marak terjadi beberapa tahun terakhir.
Ada dua hal yang mengusik batin kami terkait represi yang berdampak pada pemberangusan buku. Pertama, mengapa tindakan tersebut kembali terjadi di negeri ini? Kedua, mengapa PKI dan ajaran komunisme begitu ditakuti hingga saat ini? Sampai-sampai ada pihak yang merasa perlu menghilangkan jejak keberadaan PKI di Tanah Air.
Pembrangusan Buku versus Undang-Undang Dasar 1945
Hukum dasar konstitusi pemerintahan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 28 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat secara lisan maupun tulisan. Ketetapan MPRS tentang Pelarangan Paham Komunis di Indonesia jelas bertentangan dengan konstitusi dasar negara. Librisida pun tak seharusnya terjadi lagi di masa kini.
Hantu Komunisme dalam Kehidupan Masa Kini
Dikarenakan ketetapan majelis yang melarang keberadaan PKI dan maraknya pembrangusan buku yang mengusung tema PKI, saya dan banyak dari rekan saya menjadi penasaran. Apa yang sebenarnya telah dilakukan para anggota serta simpatisan partai yang sebenarnya turut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia ini? Bahkan, pada masa pemerintahan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, PKI sempat mendapatkan dukungan dari masyarakat, termasuk Bapak Presiden itu sendiri. Jumlah anggota partai pun bertambah hingga lima kali lipat dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun.
Demi mengobati rasa penasaran kami, saya dan rekan-rekan berniat untuk membeli buku seri investigasi dan tokoh majalah Tempo. Namun, niat sederhana ini berujung pelik. Beberapa tahun lalu, buku-buku tersebut resmi ditarik dari peredaran. Lagi-lagi, lantaran buku-buku tersebut beraliran kiri.
Kami pun segera berselancar menelusuri arus informasi di dalam jaringan. Celakanya, tak ada situs resmi yang mampu memberikan informasi yang sahih. Paling-paling hanya seputar peristiwa G30S dan informasi singkat terkait Musso dan DN Aidit, dua tokoh utama partai tersebut.
PKI dan ajaran komunisme serupa hantu yang sangat diyakini keberadaannya, tetapi tidak dapat ditemukan.
Paranoia: Pisau Bermata Dua
Librisida dan Pisau Bermata DuaKebuntuan ini membuat kami sadar akan satu hal. Sifat antipati terhadap sepenggal peristiwa sejarah hanya akan menjadi pisau bermata dua yang siap menikam siapa saja kapan pun dan di mana pun. Akibatnya bisa lebih mengerikan daripada bangkitnya PKI dan ruh komunisme pada kehidupan saat ini. Mengapa?
Pemusnahan bagian sejarah justru tanda bahwa bagian tersebut sangatlah krusial dan menimbulkan gairah masyarakat untuk terus mencarinya. Apa yang saya dan beberapa rekan lakukan adalah tanda. Tindakan represi yang berujung pada librisida hanya membuat masyarakat semakin penasaran dengan isu komunisme dan sepak terjang PKI.
Warga pun semakin gesit dan getol mencari informasi terkait hal-hal tersebut. Apalagi, di era Revolusi Industri 4.0 informasi bisa datang dari mana saja. Kami bahkan sempat membaca artikel tentang PKI dari blog pribadi milik seseorang yang kami tak tahu latar belakangnya. Informasi yang sempat kami utarakan pada paragraf-paragraf sebelumnya pun kami lansir dari Wikipedia. Konon, informasi yang tertera pada situs Wikipedia didapat dari proses akumulasi atas kontribusi para pengguna. Lagi-lagi, yang belum tentu sesuai kualifikasinya.
Celakalah bangsa ini jika tidak segera dibekali pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang isu-isu sarat kontroversi semacam PKI dan ajaran komunisme ini. Tak heran, jika fenomena paranoida dan ujaran kebencian bertebaran di mana-mana. Baik di dalam maupun luar jaringan. Rakyat Indonesia pun terpecah belah. Seperti ketika Peristiwa 65 terjadi.
Contohnya adalah, ujaran kebencian dari warganet terhadap Annindya Kusuma Putri. Penyandang gelar Putri Indonesia 2015 ini sempat mengunggah foto dirinya yang tengah menggunakan kaus merah berlambang palu arit ke akun Instagram pribadinya. Kaum penghujat sang putri pun bermusuhan dengan kaum pendukung sang putri. Sementara di luar jaringan, pembubaran Belok Kiri Festival[2] dan penggerebekan Simposium 1965 [3]adalah bukti nyata dari bahaya paranoia akan PKI terhadap kehidupan berbangsa di negeri ini.
Revolusi Mental Jangan Lagi Sekadar Slogan
Oleh karena itu, kami yakin pemberangusan buku dan tidakan represif lainnya bukanlah solusi agar sejarah kelam tak terulang kembali. Segenap anggota masyarakat harus berubah. Isu-isu sarat kontroversi tak lagi perlu ditakuti, tetapi harus dipahami. Dialog terbuka dan sistem pengajaran yang mendukung pemahaman (bukan sekadar penghafalan) materi adalah kunci agar masyarakat memiliki empati terhadap sesamanya. Bahkan, dengan mereka yang berbeda pandangan sekalipun. Dengan demikian, bangsa ini tidak mudah terpecah belah. Bhinneka Tunggal Ika pun sungguh akan menjadi semboyan hidup.
***
Jakarta, Februari 2019
Catatan Narablog: Artikel ini saya anggit bersama Ikha dan Agusta Permana dalam rangka 10 Kali Tantangan Menulis yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.
Sumber Referensi:
  1. https://nasional.kompas.com/read/2016/05/10/20442411/TAP.MPRS.Nomor.25.Tahun.1966.Belum.Dicabut.Pemerintah.Larang.Semua.Hal.Berbau.Komunis.
  2. https://metro.tempo.co/read/748759/festival-belok-kiri-dilarang-ini-kronologinya
  3. https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160419_indonesia_hasil_simposium1965
[1] Peristiwa besar yang terjadi saat suatu usaha kudeta yang menewaskan tujuh perwira tinggi militer Indonesia berserta beberapa orang lainya. Kejadian itu terjadi pada tanggal 30 September 1965 malam sampai dengan 1 Oktober 1965.
[2] Pagelaran seni yang rencananya akan berlangsung pada tanggal 27 Januari 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Festival ini tidak jadi diselenggarakan karena gagal memperoleh izin dari pihak yang berwenang.
[3] Sebuah pertemuan yang diselenggarakan untuk menganalisa peristiwa berdarah 1965. Pertemuan ini berlangsung di Jakarta pada tanggal 18-19 April 2016.

Rabu, 06 Februari 2019

Meramu narasi komedi "kata hati challenge"


   Kalakuan anak zaman sekarang itu, bisa dikatakan konyol juga. Pagi-pagi udah pada ngumpul di warung, bukannya ngumpul di dalam kelas untuk ngerjain PR bersama atau ngumpul di dalam kelas untuk merencanakan pulang lebih awal.

   Ketika udah pada ngumpul di warung, yang pertama kali ditanya itu bukan mau pesan minum atau makan apa. Yang ditanya pertama kali adalah password wifi, dan ketika tanya teman sebelah password wifinya apa pasti selalu tidak diberitahu apa sebenarnya password wifi yang benar.

  “Ton, password wifinya apa?”
  “Tukang bakso, kecil semua enggak pakai sepasi.”
   “Ok.”

   Dan ketika dicoba menulis password wifinya, ternyata tidak bisa. Lalu bertanya lagi.

   “Enggak bisa ini, Ton.”
   “Bakso tukang kalau gitu, cobalah lagi.”
   “Awas kalau kamu bohong lagi.”

   Lagi-lagi tidak bisa, karena emosi tidak diberitahu password wifinya. Toni memukul kepala Anton dengan tangannya, Anton yang terkejut dan kesakitan juga tidak terima kepalanya dipukul, lalu Anton membalas pukulan Toni. Tantan yang sedang asik melihat drama Korea merasa terganggu dengan keributan Anton dan Toni. Ahmad Tonton yang merasa risih dengan mereka berdua mencoba melerai. Toni yang merasa di kerjain tidak terima, sedangkan Anton yang dipukul juga tidak terima. Lalu Ahmad Tonton mencoba melerai dengan baik-baik, tapi karena Anton yang emosi tidak sengaja memukul Ahmad Tonton.

   Ahmad Tonton yang sebenarnya ingin melerai, justru juga ikut emosi karena dipukul oleh Anton. Ahmad Tonton lalu membalas pukulan Anton tapi malah mengenai Toni yang sebenarnya juga ingin melerai. Karena Toni yang sebelumnya sudah emosi, kali ini emosi Toni berlipat-lipat. Dan ketiganya pun saling pukul satu sama lainnya, sedangkan teman-temannya yang lain bingung melerai mereka bertiga. Karena mereka bertiga sering dipanggil dengan nama yang sama yaitu “Ton”.

#Katahatiproduction
#Katahatichallenge

Kamis, 31 Januari 2019

Tantangan tiga kata "Kata hati challenge"


Plastik, kunci, dan basah.


   Bicara soal plastik, bicara juga tentang sampah. Sampah plastik menjadi salah satu ancaman di bumi. Sejak digunakan pada abad ke-20, plastik berkembang secara luar biasa dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an, dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005.
 
 Dan Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia, yang jumlahnya 64 juta ton/tahun, dan diantaranya 3,2 juta ton/tahun dibuang ke laut.
 
 Kunci untuk mengurangi sampah di bumi adalah dengan cara kesadaran kita sendiri. Mulai dengan menggunakan pembungkus makanan selain plastik dan kembali lagi menggunakan pembungkus makanan dari alam.
 
 Selain menjadi sampah, plastik juga menyebabkan masalah lain di musim hujan. Sampah plastik yang di buang sembarangan saat musih hujan, dan ketika hujan turun plastik menjadi basah dan tergenang oleh air. Dari genangan air itu bisa menjadi tempat bertelurnya nyamuk, dan akhirnya bisa memicu penyakit deman.


#Katahatiproduction
#Katahatichallenge

Selasa, 29 Januari 2019

Unpopular opinion "Kata hati challenge"


Makan, minum sambil duduk atau berdiri”
  
   Di zaman sekarang kita sudah terbiasa, untuk makan sambil berdiri. Tapi sebenarnya makan sambil berdiri tidak bagus untuk kesehatan.

   Dari segi Islam :
Anas R.A meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW melarang minum sambil berdiri. Qatadah menjelasakan, “Lalu kami bertanya, ‘kalau makan (sambil berdiri) maka itu lebih buruk dan keji.” (HR. Muslim)
Abu Haurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Janganlah seorang diantara kalian minum sambil berdiri. Barang siapa yang lupa hal itu, hendaklah ia memutahkanya”. (HR. Muslim)

Sedangkan dari segi fakta ilmiah :
   Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani menjelaskan bahwa minum dan makan sambil duduk lebih menyehatkan, aman, enak, dan menjaga kehormatan. Sedangkan, apa yang di makan atau di minum sambil duduk akan melewati dinding perut dengan pelan dan lembut.
   Dr. Ibrahim Ar-Rawi menyatakan bahwa manusia ketika berdiri dalam keadaan tertekan dan alat penyeimbang dalam syarafnya dalam keadaan sangat aktif.

Fakta lainya, makan dan minum yang dilakukan  dengan berdiri akan membahayakan dinding usus dan beresiko menyebabkan luka pada lambung jika dilakukan terus menerus.
Jadi janganlah kita makan dan minum sambil berdiri, dari segi Islam dan kesehatan sudah dikatakan tidak baik untuk dilakukan. Dan jangan lupa ketika hendak makan atau minum bacalah doa agar makanan dan minuman bermanfaat bagi tubuh kita.


#Katahatiproduction
#Katahatichallenge

Minggu, 27 Januari 2019

Puisi "Kata hati challenge"


Rumahku, kenanganku

Ku, teringat
Pertama kali aku mengenal, orang-orang yang menyayangiku
Ku, teringat juga
Pertama kali aku berbicara, walau tidak begitu jelas

Dimana semua itu terjadi
Tempat dimana sekarang aku tinggal
Yaitu rumah

Rumah bagiku, bukan sekedar tempat berlindung
Dari hujan badai dan terik panas matahari
Melaikan tempat kenangan sewaktu aku kecil
Tempat penuh kasih sayang dan tempat kebahagian bersama

Terkadang, rumah menjadi tempatku bersedih
Disaat orang-orang yang menyayangi diriku
Harus meninggalkanku untuk selama-lamanya
Dan bagiku, rumah adalah segalanya

Madiun, 28 Januari 2019

#KataHatiProduction
#KataHatiChallenge

Jumat, 25 Januari 2019

Menginterpretasi lagu "Kata hati challenge"

Jadikan aku pacarmu

   Lelap, haru di taman sore ini. Aku menunggu seseorang yang ingin kutemui untuk pertama kalinya. Mendapat kenalan dari seorang teman, aku merasa sedikit canggung. Bias makna yang terpendam dari diriku yang menginginkan seorang kekasih. Menjadikan alas tonggak harapanku.

   Belaian indah matamu terlihat dari kejauhan, aku yang pertama melihatmu terpesona seketika. Teman mimpi rasa jemuh, kekasih mimpi bahagia dan terkadang menjadi harapan semu. Untaian bunga canda membuatmu bahagia, tempat kau lepaskan tawa berasamaku, tenang hatiku membacamu.

   Dan kini tiba waktuku, untuk puitiskan sayangku padamu dan untuk katakan cintaku padamu. Walau ini pertama kali aku mengenalmu serta melihatmu. Dan aku ingin engkau menjadikan aku pacarmu, aku berjanji akan kubingkai selalu indahmu serta iringilah kisahku.

   Kuharap engkau jangan pernah lari dariku, dan jangan pernah lupakan aku. Sekali lagi aku ingin engkau menjadikan aku pacarmu, aku selalu berjanji akan kubingkai selalu indahmu serta iringilah kisah-kisahku bersamamu.

    Sheila On 7 ~ Jadikan Aku Pacarmu (J.A.P)

#Katahatiproduction
#Katahatichallenge

Selasa, 22 Januari 2019

Budaya "Kata Hati Challenge"



PENCAK SILAT “SETIA HATI” BUDAYA ASLI MADIUN

  Kali ini akan bercerita tentang budaya yang ada disekitar kita. Karena saya tinggal di Madiun, maka saya akan bercerita tentang budaya di Madiun. Bukan karena saya tinggal di Madiun mau bercerita tentang budaya Madiun, sebab saya memang asli orang Madiun.
   Kalau bicara tentang budaya yang ada di Madiun, sebenarnya ada banyak budaya yang ada di Madiun. Tapi kali ini saya akan bercerita tentang pencak silat, siapa sih yang enggak tahu pencak silat. Di tahun 2018, tepatnya di Asian Games 2018 pencak silat merupakan penyumbang mendali terbanyak untuk Indonesia.

    Dan salah satu atlit pencak silat yang juga meraih mendali untuk Indonesia, ilmu bela dirinya beraliran pencak silat “Setia Hati” lebih tepatnya dari aliran pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate. Memang aliran pencak silat “Setia Hati” ada banyak di wilayah Madiun, tapi yang lebih dikenal oleh masyarakat Madiun dan sekitarnya adalah dari aliran pencak silat Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo Madiun dan Persaudaraan Setia Hati Terate.

  Bisa dibilang dua aliran pencak silat ini, sudah menjadi budaya bagi masyarakat di Madiun. Banyak masyarakat Madiun, yang bisa dibilang meneruskan ajaran pencak silatnya kepda anak hingga cucu-cucunya. Mungkin saya sendiri juga begitu, saya sendiri juga ikut aliran pencak silat yaitu aliran pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate. Dari keluarga saya hampir semuanya juga mengikuti aliran yang sama, dan tidak sedikitpun teman-teman saya juga menjadi seorang pendekar.

   Jika sudah resmi menjadi anggota atau warga salah satu aliran pencak silat maka bisa disebut juga seorang pendekar atau pesilat. Maka tidak heran jika Madiun juga sering disebut Madiun Kampung Pesilat. Pencak silat sendiri sudah ada di wilayah Madiun sejak jaman penjajahan, dimana pada tahun 1903 Eyang Suro atau Ki Ngabehi Suro Diwiryo mendirikan aliran pencak silat “Setia Hati” yang sampai sekarang masih ada.

   Dari cikal bakal “SH” yang didirikan oleh Eyang Suro, kini menjadi banyak aliran pencak silat yang beraliran “SH” hingga kini dan menjadika Eyang Suro sebagai guru besar dari pencak silat “Setia Hati”.

   Dan budaya pencak silat ini akan terlihat jelas ketika memasuki bulan Suro dikalender Jawa atau bulan Muharram di kalender Islam. Untuk di aliran pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate, di bulan Suro menjadi bulan dimana lahirnya pendekar-pendekar baru atau pesilat-pesilat baru yang baru selesai di “Sah”kan. Dan di tanggal 1 Suro para pendekar atau pesilat dari Persaudaraan Setia Hati Terate menjalankan tradisinya yaitu ziarah ke makam leluhurnya yang berada di wilyah Madiun dan di sekitarnya. Bisa dibilang pada saat itu Madiun dipenuhi oleh ribuan pendekar atau pesilat yang berpakaian hitam-hitam.

   Sedangkan untuk aliran pencak silat “Setia Hati” yang didirikan oleh Eyang Suro juga rutin menggelar tradisi di bulan Suro, yaitu tradisi Suran Agung yang menurut informasi yang saya dapat dilaksanakan setiap tanggal 10 bulan suro atau tanggal 10 bulan Muharram. Untuk tradisi yang dijalankan oleh “Setia Hati” sendiri khusus untuk para sesepuh dari ajaran “Setia Hati”  itu sendiri.

   Dan untuk aliran pencak silat Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo Madiun, juga melaksanakan tradisi di bulan suro. Dalam tradisi pencak silat Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo Madiun dilaksanakan setiap hari minggu pertama di bulan suro menurut informasi yang saya dapat tapi juga sering di adakan di minggu kedua, bertempat di pusat dari Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo Madiun di Jalan Doho 123 Madiun. Tradisi ini juga sering disebut dengan Suran Agung juga.

   Dan jika kalian datang ke Madiun pada bulan Suro, siap-siaplah kalian melihat banyak pendekar atau pesilat yang sedang merayakan tardisinya masing-masing. Sebenarnya bukan dari aliran pencak silat “Setia Hati” saja yang menjadi budaya masyarkat Madiun, tapi masih banyak lagi aliran pencak silat lainnya di Madiun yang tentunya lahir di Madiun.

   Dan marilah kita juga melestarika budaya asli negeri sendiri, dengan mengikutinya kita juga ikut melestarikan budaya kita sendiri.

#Katahatiproduction
#Katahatichallenge

Senin, 21 Januari 2019

"Pesan Ibu yang Saya Jalankan Hingga Hari ini"



Bersyukur dan Ikhlas.





    Apa kabar, kali ini aku mungkin bersedih ketika mendengar kata Ibu. Sebab waktu aku masih sekolah di jenjang SD, aku harus mengalami apa yang seharusnya tidak ingin aku alami. Di waktu aku masih SD kelas 5 terpakasa aku harus mengikhlaskan kepergian seorang ibuku untuk selama-lamanya. Ibuku, meninggalkanku karena penyakit paru-paru. Memang saat itu aku tidak tahu kalau ibuku sakit, dan saat itu aku belum mengerti semua yang dikatakan ibuku, yang aku tahu waktu itu hanyalah bermain.

   Sewaktu ibuku belum sakit, ibuku dan bapakku membukak sebuah warung makan. Disaat itulah aku mengerti arti kata bersyukur dari ibuku yang berjualan nasi di warung makan yang sangat sederhana. Di warung itulah masa kecilku diisi bermain bersama ibuku yang berjualan, memang setiap hari tidak selalu ramai, kadang sepi juga. Dari itulah aku berlajar bersyukur apa yang diberikan oleh Tuhan pada hari itu saja. Dan ibuku juga selalu bersyukur dengan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.

   Aku belajar ikhlas ketika ibuku mulai sakit, saat itu ibuku mulai tidak lagi berjualan karena sakit dan terpaksa warung kadang buka, kadang tidak tergantung bapakku sibuk atau tidaknya. Aku belajar ikhlas dari ibuku karena dirinya ikhlas dengan apa yang diberikan oleh Tuhan kepada ibuku. Ibuku ikhlas menerima penyakit yang diberikan oleh Tuhan, walau terkadang ibuku kesakitan merasakan penyakitnya.

    Dan itulah pesan ibuku yang hingga hari ini aku mencoba menjalankan, walaupun ibuku sakit ibuku juga selalu memerhatikan diriku. Memang kasih sayang ibu tak terbantahkan waktu, walau ibuku sakit tetap sayang kepadaku dan juga masih perhatian kepadaku. Dan ketika Hari Ibu aku selalu bersedih ketika harus melihat kenanganku bersama ibuku, sebab hanya sedikit kenanganku bersama ibuku. Dan terima kasih kepada Jasmine Elektrik www.jasmine-elektrik.com yang telah mengingatkan pesan apa yang hingga saat ini masih aku ingat walau sebenarnya aku tidak mengingatnya.

Mengenang 2018 "Kata Hati Challenge"




PERJALANAN AWAYDAYS KEDIRI.


   Hari ini sabtu, 14 Juli 2018. Hari yang aku tunggu, mungkin juga hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh pendukung club Madiun Putra FC. Karena hari adalah hari dimana laga perdana Madiun Putra di liga 3 nasional, yang akan berlangsung di stadion Brawijaya kota Kediri. Laga kali ini club kesayanganku harus bermain di kandang lawan, yaitu melawan tuan rumah Persik Kediri.

  Jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan semua kebutuhanku mulai dari uang saku tentunya, dan juga menghubungi teman-teman dekatku yang juga hobi nonton bola. Laga tandang club kesayangku ini juga akan menjadi kenang-kenanganku yang sanagt mengesankan, karena pertam kalinya juga aku menonton laga perdana club kesayanganku di kandang lawan. Dan tentunya yang paling mengesankan adalah perjalanan menuju ke kota Kediri, sebab kali ini aku dan beberapa teman-temanku memilih menggunakan transportasi umum, yang biasanya kami menyewa mobil atau bergabung dengan komunitas lain untuk pergi ke kandang lawan.

   Pukul 07:30 aku dan 4 orang temanku berangkat menuju terminal bus kota Madiun, sesampainya di terminal kami harus menunggu bus yang menuju ke arah Surabaya. Aku dan teman-teamanku lumayan lama menunggu datangnya bus yang ke arah Surabaya, sempat ada yang datang dengan tujuan yang kami inginkan, sayangnya penuh. Sebenarnya masih bisa untuk menambah penumpang, tapi kami memilih untuk menunggu bus selanjutnya.

   Pukul 08:45 datang lagi bus dengan tujuan Surabaya, kami akhirnya memilih naik bus yang satu ini. Di karenakan waktunya udah mulai siang dan kami harus berhenti di Nganjuk untuk bisa sampai di Kediri, dengan cara naik lagi bus kecil dengan tujuan Kediri. Dalam perjalanan aku dan teman-temanku terpaksa harus berdiri karena sudah penuh semua tempat duduknya. Dan yang paling menarik ketika di jalan ada yang mencoba memberhentikan bus, karena kondekturnya berada di belakang dan tidak bisa berjalan untuk  mengahampiri penumpang yang baru masuk. Penumpang yang baru masuk kebingungan gimana cara membayar kepada kondekturnya, karena di dalam bus sudah penuh. Penumpang itu, lalu meminta tolong kepada penumpang yang berada dibelakangnya untuk memberikan uangnya kepada kondektur yang berada dibelakang. Kejadian itupun tidak hanya sekali, dalam perjalanan menuju ke Nganjuk kami, hampir ada 10 kali kalau enggak salah.

   Sekitar pukul 09:30 aku dan teman-temanku sampai di terminal Nganjuk, dan kebetulan ketika kami turun langsung ada bus kecil yang akan menuju ke Kediri. Walau harus menunggu busnya penuh dengan penumpang, setidaknya kami bisa duduk santai sebentar dan bisa menikmati perjalanan. Setelah penumpang terisi penuh, busnya pun berjalan menuju ke Kediri. Sekitar 30 menit, akhirnya sampai juga di Kediri, dan ini pertama kalinya aku berada di Kediri.

  Kami langsung menuju pintu keluar terminal, kami berlima sempat berdebat karena dari informasi yang kita dapat jarak antara terminal dengan stadion adalah 6km. Kami juga sempat bertanya kepada orang-orang yang berada di terminal, dari beberapa jawaban orang-orang yang kami tanya, bilang kalau lokasi stadion Brawijaya lumayan jauh. Karena aku memutuskan untuk jalan kaki dan ingin menghemat ongkos, teman-temanku juga memilih jalan kaki.

  Belum ada 1km dari terminal kami berdebat lagi, kali ini dikarenakan kami melihat google maps. Di dalam google maps terlihat jalan menuju ke stadion yang ternyata masih lebih dari 10km, lalu kami berhenti sejenak di pinggir jalan untuk memastikan apakah kami semua terus berjalan kaki sampai setadion. Salah satu temanku mengusulkan untuk mencari tebengan sebuah truk, aku sempat setuju dengan usulan temanku itu dan semuanya juga setuju. Setelah beberapa menit mencari sebuah truk untuk diberhentikan, aku membatalkan niatku untuk mencari tebengan truk. Alasanku sih juga masuk akal, karena kami semua berdandan seperti suporter Inggris dengan pakaian casual. Masak harus naik truk, lucu nanti kalau dilihat suporter lain.

   Salah satu temanku menguslkan untuk memesan taksi online, langsung saja aku setuju. Dan temanku yang mempunyai aplikasi taksi online di marah-marahi oleh teman-temanku yang lain termasuk aku juga. Kenapa enggak dari tadi ucapku dan ucap teman-temanku yang lain kepada temanku yang punya aplikasi taksi online. Setelah dapat orderan kami menunggu sebentar lalu tibalah taksi online kami. Ketika dalam perjalanan kami saling hujat satu sama lain, dikarenakan memang benar jalan menuju setadion Brawija memanglah jauh dari terminal. Sesampainya di stadion, kami lalu bergabung dengan beberapa teman-teman suporter yang sudah sampai duluan.

  Pukul 03:30 pertandingan dimulai, aku bersama teman-temanku serta suporter dari Madiun yang lain bernyanyi memberikan dukungan kepada club Madiun Putra FC. Dan itulah perjalananku awaydays ke Kediri.

#Katahatiproduction
#Katahatichallenge

Selepas Kau Pergi, novel karangan Pethit

    Kisah ini mencerita, Ika. Siswi SMA Cendana, yang sangat cantik, centil dan manja. Mempunyai kekasih yang sangat ganteng, namun sangat t...